Pagi ini hari senin.
Neraka bagi para pelajar, entahlah bagaimana semua orang bisa berkata
seperti itu. Upacara menanti di pagi hari, ditemani mentari yang
panasnya telah sampai kebumi, rasanya seperti membakar kulitku. Aku
berdiri dibarisan barat, itu artinya aku harus menatap matahari. Riuh,
teman-temanku tak terima, kami terlalu terpanggang memang, tapi apa
daya, kami hanya gerombolan gajah sekecil semut. Tak berdaya dan
dianggap tak bisa membawa perubahan.
‘Anak yang tak punya nasionalisme, hanya disuruh berdiri saja kalian mengeluh’,
Yah,
mungkin itu kata yang tepat untuk kami, tiba-tiba hadiah mengucur pada
kami, bonus berdiri setengah jam lagi. aku baru tau kalau itu namanya
hadiah. Panas telah masuk ke tulangku, pandanganku mendadak pecah.
Yah, ringan sekali tubuhku terasa, tiba-tiba pandanganku berubah
menjadi putih.
Aku tak matikan? tapi mengapa semua berubah putih,
bukannya gelap. Ah, ini mungkin karena aku akan kesurga, tapi.. dosaku
tak terhingga, apa pantas surga untuku.
Gelap kemudian datang,
bercampur cahaya putih sedari tadi, tak lama kemudian seperti hujan
meteor, mungkin ini aku dibawa di akhirat. Bleg!!
Aww..
sepertinya aku jatuh. tersentak aku.
Inilah
surga, yah, aku belum pernah melihatnya di dunia, butiran pasir
lembur, seperti berjalan dalam kapas, ditemani suara melodi taburan air
pantai, disebelah utara ada tebing yang dilapisi dedaunan hijau.
Serontak
aku langsung memanjat tebing itu, seperti tangga yang belum jadi,
sedikit licin karena lumut hidup dalam alas batuan itu, berharap mungkin
disana aku akan menemukan temanku yang juga berada di surga.
Nihil!
Tak
ada segelintir orang, tapi mataku tak memikirkan itu, aku berfikir
dengan mata karena otakku tak berfungsi, kepalaku ringan, mungkin otaku
terjatuh!.
Inikah salju? Aku belum pernah merasakanya di dunia.
Dingin, namun butirannya lebih besar, menawan seperti kristal,
menyelimuti sebagian dari tubuh rerumputan, rerumputan liar yang ada
disepanjang daratan. Raratan yang sangat rimbun seperti hutan.
Tapi, mendadak aku lapar!
Deekk!
Sebuah benda bulat merah marun berada tepat diujung jari kakiku. Buah
yang jatuh dari pohon tepat aku berdiri sedari tadi. Hamparan pohon,
ini mungkin hutan hujan tropis yang sering dibicarakan guruku dulu
sewaktu masih sekolah.
Tapi.. bagaimana ada salju? Hutan hujan
tropis ada di daerah tropis. Berarti ini taiga. Loh, apa ini
tumbuhankonifer? Pertanyaan konyol! Ini karena otakku tak berfungsi.
Buah
manis yang merah marun tadi kumakan, tak peduli itu beracun atau
tidak, yang pasti rasanya manis, dagingnya lembut seperti aromanis yang
pernah ku makan di pasar malam sewaktu aku kecil dulu, tak ada buah
seperti ini di bumi. Tak lama aku merasakan uah itu, tiba-tiba kepalaku
menjadi berat, tubuhku kaku seperti besi, tak bisa aku bertahan untuk
tetap berdiri. Aku terjatuh, ini mungkin gara-gara buah tadi.
Buah itu beracun!
Lenganku terbentur batu, sakit sekali rasanya!
Sepertinya
sekarang aku akan mati. Lalu tadi apa? Atau sekarang aku akan ke
neraka? Mungkin saja, aku banyak berbuat salah dalam kehidupan. Dan saat
itu aku tak berdaya, mataku tertutup rapat.
Tiba-tiba mataku terbuka, berat sekali. Saat ini panas, berarti benar, inilah neraka!
Berlahan kupikir, suara ribut terdengar, ricuh sepertinya. Kutatap sebuah objek, sesosok seperti manusia.
bukannya dia temanku? Dia juga ada di neraka?
Tertegun lega rasanya, ada yang menemaniku di neraka.
“bagaiman keadaanmu?”, tanyanya sambil menyodorkanku segelah teh panas
AAAHH SYUKURLAH! AKU HANYA PINGSAN…
(Bekti Novi A / 8 Desember 2011)